Ebeg Banyumasan Desa Piasa Kulon
Ebeg merupakan salah satu jenis kesenian pertunjukan tradisional yang berkembang di Jawa Tengah seperti daerah Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen. Ebeg pada umumnya dilaksanakan pada masa tertentu seperti hari besar keagamaan/ nasional, festival budaya setempat, atau perayaan penting yang dilakukan oleh keluarga. Kesenian Ebeg ini merupakan salah satu dalam jenis seni pertunjukan Kuda Lumping yang secara luas berkembang di Jawa. Pada daerah lain seperti Yogyakarta, kesenian ini disebut sebagai Jathilan, sementara di Jawa Timur disebut sebagai Jaran Kepang, atau Kuda Kepang. Pertunjukan Ebeg pada umumnya dilakukan secara berkelompok pada setiap babak penampilan. Tarian pada kesenian Ebeg Banyumasan merupakan sebuah representasi dari Perang Jawa oleh Pangeran Diponegoro. Kuda Lumping sebagai alat peraga disimbolkan sebagai kuda yang ditunggangi oleh para prajurit dalam berperang melawan penjajah kolonial.
Kesenian Kuda Kepang atau Kuda Lumping di Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, secara lokal diidentifikasi dan diklasifikasikan sebagai seni pertunjukan Ebeg. Keberlangsungan tradisi ini ditopang secara struktural melalui institusi lokal berupa Sanggar Kesenian “Tirto Budoyo”. Sanggar ini didirikan pada tahun 1983 oleh Bapak Tawirana dengan tujuan utama melembagakan upaya pelestarian serta mencegah pergeseran nilai kebudayaan lokal di Desa Piasa Kulon.
Dalam perkembangannya, tata kelola Sanggar Tirto Budoyo mengalami regenerasi kepemimpinan yang saat ini diketuai oleh Bapak Sawirja. Selaku pegiat kesenian dan penerus manajemen sanggar, Bapak Sawirja bertanggung jawab atas operasionalisasi kegiatan latihan, pengorganisasian pertunjukan, serta pembinaan anggota. Keberadaan sanggar ini mencatatkan tingkat partisipasi yang signifikan dari generasi muda setempat, yang menunjukkan terjadinya proses transmisi budaya secara efektif antar-generasi di tingkat lokal.
Selain peran lembaga kesenian non-formal, keberlanjutan tradisi Ebeg di Desa Piasa Kulon didukung oleh mekanisme pengawasan internal desa melalui Satgas Adat. Lembaga ini memiliki tugas pokok dan fungsi untuk menjaga, mengawasi, serta melestarikan tata nilai kebudayaan desa secara berkelanjutan. Dalam struktur kelembagaan tersebut, Bapak Kusno menjabat sebagai anggota Satgas Adat yang berperan aktif dalam melakukan koordinasi, perlindungan hukum adat, dan pengawasan kegiatan kebudayaan. Sinergi antara tata kelola Sanggar Tirto Budoyo dan peran strategis Satgas Adat menjadi faktor utama yang menjaga eksistensi serta stabilitas kesenian Ebeg di Desa Piasa Kulon hingga saat ini.
Exploring Ebeg Banyumasan: A Living Heritage of Piasa Kulon Village
Ebeg is a style of traditional performing art that has developed in Central Java, particularly in regions such as Banyumas, Purbalingga, Cilacap, and Kebumen. Ebeg is generally carried out during specific occasions, such as religious or national holidays, local cultural festivals, or important family celebrations. Ebeg is one of the many regional forms of the traditional Kuda Lumping performance, a folk art that is widely practiced across Java. While it is known as Ebeg in the Banyumas region, this traditional performance is called Jathilan in Yogyakarta and Jaran Kepang or Kuda Kepang in East Java. Despite the different names, each region has its own unique style and cultural characteristics, making the tradition a rich reflection of Java's diverse cultural heritage. Ebeg performances are typically performed in groups, with dancers performing together throughout each stage of the show. In Ebeg Banyumasan, the choreography is believed to represent the Java War led by Prince Diponegoro. The woven bamboo horses (kuda lumping) symbolize the horses ridden by warriors as they fought against colonial forces.
The continuity of this cultural tradition in Piasa Kulon Village is supported by Sanggar Tirto Budoyo, a local arts studio founded in 1983 by Mr. Tawirana. Established with the mission of preserving the village's cultural heritage, the studio has become an important community space where the traditions and values of Ebeg continue to be practiced, celebrated, and passed down to future generations. Over time, the management of Sanggar Tirto Budoyo has undergone a leadership transition and is currently led by Mr. Sawirja. As an arts activist and the successor to the sanggar’s management, Mr. Sawirja is responsible for overseeing rehearsal activities, organizing performances, and mentoring members. The sanggar has seen significant participation from the local youth, demonstrating an effective process of cultural transmission across generations at the local community level.
In line with the role of local arts organizations, the preservation of Ebeg in Piasa Kulon Village is also supported by the village's Satgas Adat (Customary Task Force). This community institution is responsible for safeguarding, promoting, and preserving the village's cultural values and traditions. As a member of the Satgas Adat, Mr. Kusno plays an active role in coordinating cultural initiatives, protecting local customary practices, and overseeing cultural activities within the village. The close collaboration between Sanggar Tirto Budoyo and the Satgas Adat has become a main foundation of Ebeg's continued vitality in Piasa Kulon Village. Together, they help ensure that this cherished tradition remains a vibrant part of the community's cultural identity and is passed on to future generations.
Reference
Interview with a local community leader.
Gregorius Sukmambo Bilakso Jantro & Kiswanto. (2023). Adaptasi Dan Perkembangan Kesenian Ebeg Banyumasan Pada Komunitas Diaspora Jawa Di Sumatra Selatan. Jurnal Kajian Seni, 10(1).
Titi Isnaini Fauzah et al. (2024). Warisan Tak Tergantikan: Mengapa Ebeg Purbalingga Perlu Dilestarikan?. Jurnal SMaRT, 10(2).