Logo
Sistem Informasi Desa Piasa Kulon

SLOSOR MENGGAPAI HARAPAN "Part VI"

Semangat Tak Pudar: Gagal Anggaran, Warga Piasa Kulon dan KKN UGM Swadaya Kepras 600 Meter Tebing Wadas Slosor

BANYUMAS – Rencana tinggal rencana, namun pembangunan tidak boleh berhenti. Kalimat ini menggambarkan dinamika di Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Sempat terkendala regulasi dan peralihan anggaran Dana Desa pada tahun 2025 ini yang membuat proyek fisik batal, warga Dusun C tidak tinggal diam. Mereka memilih bergerak sendiri secara swadaya.

Pada hari Minggu, puluhan warga kembali turun ke lapangan untuk melanjutkan kerja bakti pelebaran akses jalan sepanjang 600 meter menuju Grumbul Slosor, sebuah wilayah yang selama ini terisolasi akibat akses yang ekstrem.

Menembus Tanah Wadas Tanpa Alat Berat

Medan yang dihadapi tergolong sangat berat: tebing curam dan lapisan tanah wadas (batuan sedimen keras). Tanpa bantuan alat berat, sebanyak 55 orang warga yang merupakan perwakilan dari 9 RT di Dusun C bahu-membahu memecah batu dan mengikis tebing hanya dengan mengandalkan alat tradisional seadanya.

  • Alat Utama: Cangkul dan linggis.

  • Panjang Jalur: 600 meter membelah tebing.

  • Kondisi Medan: Terjal, berbatu keras (wadas), dan rawan longsor jika tidak diperhitungkan dengan matang.

Meskipun otot harus bekerja keras menembus batu wadas, suasana di lokasi justru jauh dari kesan tegang. Canda gurau kerap pecah di antara warga, memecah kesunyian hutan dan bukit, sekaligus menjadi penawar lelah yang ampif.

Kehadiran Kades dan Mahasiswa KKN UGM Bakar Semangat Warga

Kerja bakti kali ini terasa lebih spesial dan ramai. Selain dikoordinasi langsung oleh Kepala Dusun C, Tuswanto, aksi nyata ini juga dihadiri langsung oleh Kepala Desa Piasa Kulon, Ratno. Tidak hanya itu, para mahasiswa yang sedang menempuh kuliah kerja nyata (KKN) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga tampak membaur di tengah-tengah warga, ikut mengayunkan alat dan melangsir tanah.

"Kehadiran teman-teman mahasiswa KKN UGM dan Pak Kades di lapangan benar-benar membakar semangat warga. Lelahnya jadi tidak terasa karena kami bekerja sambil saling bercanda gurau," ungkap Kadus C, Tuswanto.

Kepala Desa Piasa Kulon, Ratno, menjelaskan bahwa pelebaran jalur ini sebenarnya sudah masuk dalam pos anggaran Dana Desa tahun 2025. Namun, karena adanya kendala regulasi yang ketat serta keharusan pengalihan anggaran untuk program ketahanan pangan, eksekusi fisik lewat jalur pemerintah terpaksa batal.

"Secara regulasi di tahun 2025 ini anggaran tidak bisa dipaksakan turun untuk jalur ini karena ada peralihan plot dana. Tapi kebutuhan warga Slosor akan akses jalan sudah sangat mendesak. Akhirnya, warga membuktikan bahwa gotong royong adalah solusi tertinggi saat sistem birokrasi mengalami kendala," tegas Kades Ratno.

Logistik Swadaya, Urat Nadi Gotong Royong

Hingga siang hari, semangat warga dan mahasiswa KKN tidak kendor. Energi mereka terus disuplai oleh konsumsi yang disediakan secara swadaya oleh warga setempat. Makanan berat, gorengan hangat, hingga bergelas-gelas kopi hasil sumbangan sukarela warga mengalir tanpa henti ke lokasi kerja bakti.

Bagi 55 warga Dusun C dan perangkat desa setempat, target mereka hanya satu: jalan sepanjang 600 meter ini segera lebar dan layak dilalui, sehingga isolasi geografis dan ekonomi yang mencekik Grumbul Slosor bisa segera berakhir.

Tulis Komentar