Logo
Sistem Informasi Desa Piasa Kulon

Mengenal Kesenian Gendhingan Sanggar Salim Budaya di Desa Piasa Kulon, Somagede, Banyumas.

Gendhingan (Gendhing Banyumasan) merupakan sebuah kesenian tradisional Jawa yang dimainkan menggunakan alat musik gamelan untuk mengiringi sebuah tari atau tembang tradisional Jawa. Ditengah arus perkembangan teknologi dan globalisasi, kesenian Gendhingan di Dusun C, Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas menunjukkan eksistensi dari kesenian tradisional Banyumas. Pada Dusun C, didirikan sebuah sanggar kesenian sebagai pusat kesenian di Dusun C dan wilayah sekitarnya yakni “Sanggar Salim Budaya” pada tahun 2021 oleh Bapak Supono. 

Secara epistemologis, kata "Salim" diambil dari bahasa lokal yang berarti berjabat tangan. Jabat tangan ini dimaknai sebagai simbol persatuan, kerukunan, dan kebersamaan antar warga desa. Sementara itu, kata "Budaya" dimaknai sebagai ekspresi nyata dari nilai-nilai tradisi yang melekat pada setiap jengkal tempat. Jadi, Sanggar Salim Budaya adalah sebuah doa dan semangat: bahwa melalui kebersamaan dan persatuan warga (salim), nilai-nilai tradisi leluhur (budaya) akan selalu hidup.

Sejak didirikan lima tahun yang lalu, sanggar ini telah bertransformasi menjadi pusat kegiatan (episentrum) budaya bagi warga Dusun C untuk melakukan latihan karawitan secara rutin dan terorganisir. Di bawah manajemen dan pengelolaan yang konsisten dari Bapak Supono, sanggar fisik ini berhasil mengumpulkan para maestro seni lokal, pemuda, hingga anak-anak, untuk turut serta untuk “Nguri - uri kabudayan Jawa” (Melestarikan budaya Jawa). Kehadiran sanggar ini menjadi jawaban atas kekhawatiran akan hilangnya ruang publik yang ramah bagi pelestarian seni tradisional di tingkat desa. 


Dalam aktivitas yang berlangsung di Sanggar Salim Budaya, latihan Gendhingan tidak hanya berfokus pada penguasaan teknik pada instrumen gamelan, namun pula dilakukan latihan dengan menyanyikan lagu-lagu tembang Jawa yang kaya akan pesan moral. Di samping menjadi media olah vokal dan rasa lewat tembang tersebut, musik Gendhingan yang diproduksi di sanggar ini memiliki peran krusial sebagai pengiring utama dalam pagelaran wayang kulit. Desa Piasa Kulon memiliki tiga Dalang cilik yang tergabung di dalam sanggar ini yaitu Abiyu, Jibril, dan Guruh. Kehadiran ketiga dalang cilik ini menjadi representasi nyata dari keberhasilan Sanggar Salim Budaya dalam menanamkan kecintaan akan seni pertunjukan tradisi sejak dini, sekaligus memastikan bahwa estafet kepemimpinan budaya di atas panggung kelir akan tetap terus bersambung. 


Memasuki usianya yang kelima, Sanggar Salim Budaya kini tidak hanya dipandang sebagai benteng pertahanan budaya yang bersifat defensif, melainkan telah memancarkan potensi besar sebagai pusat edukasi moral dan karakter masyarakat utamanya kalangan anak - anak dan remaja di Desa Piasa Kulon. Musik gamelan yang dimainkan secara dinamis untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit kini menjadi sarana efektif untuk mengenalkan kembali nilai-nilai luhur dan filosofi hidup Jawa kepada generasi muda yang mulai terasing dari akar budayanya. Eksistensi latihan rutin yang konsisten di sanggar ini membuktikan bahwa dengan pengelolaan komunitas yang solid dan kepemimpinan figur lokal yang kuat seperti Bapak Supono, kesenian Gendhingan Banyumasan mampu membuktikan relevansinya, menegosiasikan eksistensinya di era digital, sekaligus terus memperkuat jati diri, kebersamaan, dan ketahanan kultural masyarakat lokal secara turun-temurun. 


Meet Gendhingan: Preserving Cultural Heritage at Sanggar Salim Budaya in Piasa Kulon Village, Somagede, Banyumas 


Gendhingan (Gendhing Banyumasan) is a traditional Javanese performing art that features a gamelan instrument as the musical accompaniment for traditional Javanese dances and songs. Amid the rapid advancement of technology and globalization, Gendhingan in Sub-village C, Piasa Kulon Village, Somagede Subdistrict, Banyumas Regency shows Banyumas cultural heritage existentially. Established in 2021 by Mr. Supono, Sanggar Salim Budaya has become a cultural hub in Hamlet C, bringing together the local community and neighboring areas to preserve and celebrate traditional arts. 


Etymologically, the name "Salim" comes from the local language and means to shake hands. This gesture symbolizes unity and harmony among the villagers, reflecting the values that Sanggar Salim Budaya seeks to uphold through its cultural activities. Meanwhile the word "Budaya" (culture) reflects the traditions, values, and local identity that have been passed down through generations. Together, the name Sanggar Salim Budaya embodies a shared hope that through unity (salim), these cultural traditions (budaya) will continue to thrive and inspire future generations. 


Since its establishment five years ago, Sanggar Salim Budaya has grown into the cultural hub of Hamlet C, serving as a welcoming space where the community gathers for regular karawitan practices and other cultural activities. Under the consistent leadership of Mr. Supono, this sanggar has brought together local artists and children with shared commitment to nguri-uri kabudayaan Jawa–preserving and celebrating Javanese culture. More than just a place to practice traditional arts, Sanggar Salim Budaya has become a vibrant community space that helps ensure these cultural traditions continue to thrive.


At Sanggar Salim Budaya, Gendhingan practice focuses not only on mastering gamelan instrument techniques but also on singing Javanese songs filled with meaningful messages. In addition to serving as a medium for vocal and emotional expression through these songs, the Gendhingan music produced at this studio plays a crucial role as the primary accompaniment in wayang kulit performances. Piasa Kulon village has three young puppeteers who are members of this sanggar, Abiyu, Jibril, and Guruh. The presence of these three young puppeteers is a tangible representation of Sanggar Salim Budaya’s success in instilling a love for traditional performing arts from an early age, while also ensuring that the cultural legacy on the wayang kulit stage will continue to be passed down.


Now in its fifth year, Sanggar Salim Budaya has grown beyond being a place dedicated solely to preserving tradition. It has become a center for cultural education, introducing children and young people in Piasa Kulon Village to the values, wisdom, and philosophy of Javanese culture. Through the dynamic melodies of the gamelan accompanying wayang kulit performances, younger generations are rediscovering the traditions that have long shaped their community. The studio's consistent practice sessions demonstrate that, with strong community support and the dedicated leadership of Mr. Supono, Gendhingan Banyumasan continues to remain relevant in the digital era. By preserving tradition while embracing the present, Sanggar Salim Budaya helps strengthen cultural identity, foster a sense of togetherness, and ensure that Banyumas rich cultural heritage continues to be passed down from one generation to the next.


Tulis Komentar